Senin, 03 Oktober 2011

MATERI RUANG

MOUNTAINEERING
By : Chen (MSP. 07-153 KK)

  1. Pengertian Mountaineering
Mountaineering menurut istilah umumnya adalah segala kegiatan yang bermedan gunung. Sedangkan teman-teman mapala sering mengartikan mountaineering adalah mendaki gunung dengan segala aktivitas dan kesulitan yang kita rasakan di alam bebas atau dapat juga di artikan cara mengatasi lintasan di daerah pegunungan baik menggunakan alat ataupun tidak.
Secara lahiriah, mendaki adalah suatu olah raga keras bersifat petualangan yang membutuhkan pengetahuan, kekuatan, kecerdasan, keterampialn dan daya juang yang tinggi, sedangkan secara batiniah mendaki gunung adalah alternative menyaksikan keagungan, kebesaran ciptaan Tuhan YME.

  1. Syarat-syarat Untuk Menjadi Seorang Pendaki Gunung (mountaineer)
1)    Sikap mental,
2)    Pengetahuan dan keterampilan,
3)    Kondisi fisik yang memadai dan
4)    Etika.

  1. Persiapan Dasar Pendakian
1)    Perencanaan pendakian, Seorang montaineer harus memiliki rencana yang jelas kapan (waktu), dimana (tempat) dan tujuan pendakian (hasil kegiatan)
2)    Pencarian data-data selengkap-lengkapnya gunung yang akan dituju,
Data-data dapat kita peroleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki. Tujuanya agar kita lebih memahami medan pendakian
3)    Buatlah struktur kecil pendakian, tujuannya adalah untuk pembagian tugas diantaranya: pencarian data-data gunung yang akan di tuju, persiapan dana, persiapan logistik dan menyiapkan seluruh administrasi perjalanan
4)    Kesiapan pengetahuan dan keterampilan, Selanjutnya buatlah rencana operasi perjalanan. Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa (kandungan gizi perlu diperhatikan), perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah rencana perjalanan secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok ditentukan siapa yang akan menjadi leader dan sweeper), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.
5)    Persiapan fisik dan mental sebelum pendakian, Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya. Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan (sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya). Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.
6)    Persiapan administrasi
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju dan jangan lupa laporan perjalanan yang harus diserahkan ke seketariatan agar perjalanan anda bermanfaat untuk anda dan organisasi

  1. Jenis Perjalanan/Pendakian
Pembagian mountaineering menurut jenis medan yang dihadapi
1)    Hill Walking ; pendakian gunung melalui rute yang sudah tersedia/mendaki bukit-bukit yang landai. Lama perjalanan bisa beberapa hari (santai dan kreatif), sehingga dibutuhkan keterampilan membuat dan memilih tempat untuk bivac dan tidak membutuhkan peralatan teknis mendaki, atau kita singkat dengan perjalanan mendaki bukit-bukit atau pegunungan yang belum membutuhkan peralatan khusus dan tekhnik khusus.
2)    Scrambling ; Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak terlalu terjal yang terkadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3)    Rock Climbing ; Pendakian pada batu yang membutuhkan alat dan tekhnik khusus
4)    Snow (salju) dan Ice Climbing (pendakian es) ; Pendakian pada gunung es atau daerah bersalju yang membutuhkan alat dan tekhnik khusus. Pada pendakian ini sangat dibutuhkan peralatan-peralatan khusus yang sangat membantu seperti : Ice Axe (bentuknya seperti gancu), Ice Screw (sekrup), Crampon (sepatu es) dan sebagainya
5)    Ekspedisi, Menurut kamus bahasa indonesia ekspedisi adalah ek.spe.di.si
[n] (1) pengiriman surat, barang, dsb; (2) perusahaan pengangkutan barang; (3) Huk salinan yg sama bunyinya (tt vonis atau akta); (4) perjalanan penyelidikan ilmiah di suatu daerah yg kurang dikenal; (5) Mil pengiriman tentara untuk memerangi (menyerang, menaklukkan) musuh di suatu daerah yg jauh letaknya.
            Pengertian ekspedisi secara definisi ada banyak pendapat, diantaranya ekspedisi adalah petualangan yang dilakukan di daerah baru(bagi pelaksana) ada juga yang menyatakan ekspedisi adalah perjalanan jauh dan panjang ke suatu daerah yang belum pernah di datangi orang.
            Belum adanya standarisasi ekspedisi sehingga menciptakan polemic yang berkepanjangan tentang makna,tujuan,dan devinisi ekspedisi.polemic inilah yang membuat masing-masing organisasi pecinta alam berhak untuk mendefinisikan ekspedisi itu sendiri dengan kemampuan organisasi masing-masing sehingga parameter maupun tolak ukur pun ditentukan melalui kesepakatan organisasi.
            Dari makana ekspedisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa ekspedisi itu sendiri gabungan dari Hill Walking, Scrambling, Rock Climbing dan Snow & Ice Climbing, karena setiap melakukan ekspedisi kita tidak terlalu mengenal jenis gunung yang akan kita datangi sehingga di setiap ekspedisi bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Disamping pengetahuan teknik mendaki dan peralatan, perlu juga dikuasai tentang ‘manajemen perjalanan, manajemen logistik, komunikasi lapangan, PPGD’ dsb.

  1. Klasifikasi Pendakian Berdasarkan Kemiringan
1)    Grade one/Class 1
adalah Sudut kemiringannya ± 300 Berdiri tegak, tidak diperlukan perlengkapan dan teknis khusus,
2)    Grade two/Class 2
 adalah Sudut kemiringannya ± 450 Medan sedikit bertambah sulit, dianjurkan memakai sepatu yang layak. Penggunaan tangan mungkin perlu dilakukan untuk keseimbangan,
3)    Grade three/Class 3
adalah Sudut kemiringannya ± 750 Medan semakin curam, dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tali pengaman belum terlalu dibutuhkan,
4)    Grade four/Class 4
adalah Sudut kemiringannya ± 900 Rute semaki sulit, memanjat bebas dengan penggunaan tali belaying dan runner, peralatan masih sebagai pengaman,
5)    Grade five/Class 5
 adalah Sudut kemiringannya > 900 Tebing tidak lagi memberikan pegangan, pendakian bergantung sepenuhnya pada peralatan atau disebut dengan pemanjatan artificial tali dan ancor digunakan untuk gerakan naik.

  1. Pengelompokan Bahaya di Gunung
1)    Bahaya Subjektif adalah Segala bentuk bahaya dan atau potensi bahaya yang berasal dari diri sendiri.
2)    Bahaya Objektif adalah Segala bentuk bahaya dan atau potensi bahaya yang berasal dari alam atau lingkungan sekitar.
3)    Bahaya Nasib adalah Segala bentuk bahaya dan atau potensi bahaya yang pada dasarnya diluar perhitungan atau pertimbangan pelaku pendaki yang biasanya bersifat tidak terduga.
  1. Penyakit Mendaki Gunung, Jenis Dan Cara Penanganan
1)    Macam-macam penyakit yang mungkin dapat terserang pada para pendaki (sakit kelainan panas, yang bisa di bedakan menjadi tiga macam, berdasarkan beratnya)
a)    Heat Cramps
Heat Cramps ( Kram Karena Panas ) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas.
Heat cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam ( termasuk natrium, kalium dan magnesium ) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, Heat Cramps bisa menyebabkan Heat Exhaustion.
Gejalanya :
·         Kram yang tiba - tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki.
·         Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.
            Penanganannya: Dengan meminum atau memakan minuman / makanan yang mengandung garam.
b)    Heat Exhaustion
Heat Exhaustion ( Kelelahan Karena Panas ) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena /terpapar panas selama berjam - jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan.
Jika tidak segera diatasi, Heat Exhaustion bisa menyebabkan Heat Stroke.
Gejalanya :
·         Kelelahan.
·         Kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat.
·         jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
·         Denyut jantung menjadi lambat dan lemah.
·         Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab.
·         Penderita menjadi linglung / bingung terkadang pingsan.
            Penanganannya :
·         Istirahat didaerah yang teduh.
·         Berikan minuman yang mengandung elektrolit (elektrolit : Dalam fisiologi, ion elektrolit utama adalah natrium (Na +), kalium (K +), kalsium (Ca 2 +), magnesium (Mg2 +), klorida (Cl -), fosfat hidrogen (HPO 4 2 -), dan hidrogen karbonat (HCO 3 -). Simbol muatan listrik plus (+) dan minus(-) menunjukkan bahwa zat tersebut adalah ion di alam dan memiliki distribusi seimbang elektron, yang merupakan hasil pemisahan kimia)

c)    Heat Stroke
Heat Stroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika tidak segera diobati, Heat Stroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41° Celsius adalah sangat serius, 1 derajat diatasnya seringkali berakibat fatal. Kerusakan permanen pada organ dalam, misalnya otak bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.
Gejalanya :
·         Sakit kepala.
·         Perasaan berputar ( vertigo ).
·         Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering.
·         Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit ( normal 60-100 kali / menit ).
·         Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
·         Suhu tubuh meningkat sampai 40 - 41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar.
·         Penderita bisa mengalami disorientasi ( bingung ) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.
            Penanganannya :
·         Pindahkan korban dengan segera ketempat yang sejuk, buka seluruh baju luarnya.
·         Bungkus korban dengan selimut yang sejuk dan basah. Usahakan agar selimut tetap basah. Dinginkan korban hingga suhunya mencapai 380 Celcius.
·         Saat temperatur mencapai 380 celcius, ganti selimut basah dengan yang kering, lanjutkan perawatan pada korban secara hati - hati.

2)    Penyakit yang lazim di alami dalam kegiatan pendakian gunung. Yakni
a)    Mountain Sickness ( Penyakit Gunung )
Penyebab utamanya adalah penurunan kadar oksigen didalam darah karena berada diketinggian tertentu. Faktor yang bisa menjadi penyebabnya adalah :

Ø  Kurangnya aklimatisasi  (proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda).
Ø  Pergerakan mencapai ketinggian tertentu yang terlalu cepat

Gejala mountain sickness antara lain :
·         Pusing.
·         Nafas sesak.
·         Tidak nafsu makan.
·         Mual terkadang muntah.
·         Badan terasa lemas, lesu, malas.
·         Jantung berdenyut lebih cepat.
·         Penderita sukar tidur.
·         Muka pucat, kuku dan bibir terlihat kebiru-biruan.

Penanganannya :
·         Beristirahat yang cukup, pada umumnya gejala ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat selama 24 s/d 48 jam.
·         Jika kondisi tidak membaik turunkan si-penderita dari ketinggian tersebut, sekitar 500 s/d 600 meter.

b)    Hypotermia
Hypotermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh dibawah 350 C. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya :
Ø  Suhu yang ekstrim.
Ø  Pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah.
Ø  Kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.
Gejala Hypothermia antara lain :
·         Menggigil.
·         Dingin, pucat, kulit kering.
·         Bingung, sikap - sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi.
·         Jatuh kesadaran.
·         Bernapas pelan dan pendek.
·         Denyut nadi yang pelan dan melemah.

Penanganannya :
·         Cari perlindungan dari kondisi lingkungan yang dingin, misal membuat Tenda.
·         Lepaskan semua pakaian yang basah.
·         Selimuti korban dengan selimut atau sleeping bag kering. Atau jika ada safety blangket yang diseliputi dengan aluminium.
·         Baringkan korban dan hindarkan kontak langsung dengan tanah.
·         Jangan biarkan penderita tertidur yang berakibat hilang kesadarannya.
·         Beri penderita makanan / minuman hangat dan mengandung hidrat arang.
·         Jangan berikan minuman ber - alkohol.
·         Evakuasi secepatnya ke rumah sakit jika kondisi tidak membaik
  1. Peralatan Penunjang Pendakian
a)    Perlengkapan Utama
1.    Sepatu dan kaus kaki.
2.    Ransel/carrier dan day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek).
3.    Senter dan batere dan bolam ekstra.
4.    Ponco atau raincoat.
5.    Matras.
6.    Sleeping bag
7.    Topi rimba.
8.    Tempat minum atau veples.
9.    Korek api dalam wadah waterproof (tempat film) dan lilin.
10.  Obat-obatan pribadi (P3K set).
11.  Pisau saku, parang tebas dan batu asah
12.  Kompor untuk masak (kompor parafin atau sejenisnya yang mudah dibawa).
13.  Nesting, sendok dan cangkir.
14.  Peluit (peluit SOS atau whistle).
15.  Peta dan kompas.
16.  Altimeter/alat pengukur ketinggian dari permukaan laut (kalau punya).
17.  Tenda (bisa diganti ponco atau lembaran kain parasut untuk dijadikan bivak).
18.  Tissue gulung (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).
19.  Personal higiene: sikat gigi, odol, sabun mandi dan shampo
20.  Tali plastik (sekitar 10 meter, untuk membuat bivak atau tenda) dan tali rafia.
b)    Pakaian
1.    Celana pendek, panjang, pakaian ganti, hem lengan panjang, kaus kaki, kaus tangan, sweater, pakaian dalam dll
2.    Kaos/t-shirt.
3.    Sweater (parka) dan Jaket (tahan air).
4.    Sarung.
5.    Kupluk atau balaclava.
6.    Scarf atau slayer.
7.    Jas hujan (raincoat atau ponco).

c)    P3K
1.    Betadine.
2.    Kapas./ Perban/ Kain kassa.
3.    Rivanol.
4.    Alkohol 70%. :
5.    Obat alergi: CTM.
6.    Obat-obatan ( maag, Antangin, Obat Alergi/CTM, Ponstan, Parasetamol, obat Keracunan :Norit, Obat sakit perut (diare) : Diatab dll
7.    Tensoplast (agak banyak, mis: 4 pack, terutama untuk preventif ‘blister’ yang dikenakan sebelum perjalanan dilakukan).
8.    Sunburn preventif (Tabir Surya): Nivea atau Sunblock
9.    Oralit (agak banyak, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang; kalau tidak ada bisa diganti larutan gula-garam).




"aku tidak suka manja, karna manja adalah lambang kelemahan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar